BIDADARIKU KAMU DIMANA DAN LAGI NGAPAIN?
Ada saat-saat dimana aku mengatakan pada semangatku : Sudahlah kamu terlalu letih. Saat-saat aku kehilangan taring. Ya, Aku memang senang ditipu Naluri Remaja. Aku menikmati indahnya warna-warni masa muda. Disaat betisku yang kuat menjadi lemah, pandangan layu dan malas.
Betatapapun itu, yang penting demi Bidadari yang berlari kencang dan enggan menengok ke belakang. Demi Bidadari yang memalingkan wajahnya dari wajahku. Ya, dirimu yang menjelma menjadi rembulan sehingga memaksaku berkata boleh gak aku menjadi bumi? Akupun memalingkan diriku dan ikut sombong. Aku cuek bebek. Brengsek, ternyata engkau mencariku dan rindu katamu.
Betatapapun itu, yang penting demi Bidadari yang berlari kencang dan enggan menengok ke belakang. Demi Bidadari yang memalingkan wajahnya dari wajahku. Ya, dirimu yang menjelma menjadi rembulan sehingga memaksaku berkata boleh gak aku menjadi bumi? Akupun memalingkan diriku dan ikut sombong. Aku cuek bebek. Brengsek, ternyata engkau mencariku dan rindu katamu.
Terlambat sudah. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak suka banting tulang dalam hal ini. Syukurnya aku telah menemukan tempatnya dimana harus berhenti. Aku sadar Sang Bidadari milikku sebenarnya telah disiapkan Tuhanku, disana untukku ia menunggu dengan setia dan penuh asa. Meskipun saat ini ia tidak ada, namun percayalah sayang aku tidak akan memeluk siapapun kecuali dirimu. Kamu ada dan sedang mendoakan keselamatan dan kesuksesanku. Meskipun aku sendiri tidak tahu dimana kamu sekarang dan kamu lagi ngapain?