JEPANG, JIHAD MODERN DAN HIROKO KINOSHITA

Jepang, nama yang sering kita dengar, adalah salah satu dari negara yang paling maju teknologinya. Produk yang dibuat Jepang itu dicari orang karena mempunyai kualitas baik dan tahan lama.

Di era tahun 30-an, Jepang masih dalam keadaaan yang sangat memperihatinkan dibandingkan saat ini, penduduknya masih banyak hidup dengan cara nomaden dari gunung ke gunung, mereka kebanyakan menjual ternak, kayu bakar dan sebagian kecil berkebun. Masyarakatnya juga belum mengenal agama, kehidupan mereka masih di liputi takhayul, ajaran orang tua dan raja-raja. Intinya belum tercium bau-bau kemajuan.

Meskipun gambaran mereka seperti tersebut diatas masyarakat Jepang kala itu mempunyai sifat yang perlu perlu kita tiru dewasa ini; bersih, tepat janji dan semangat kuat (kerja keras). Maka kita tidak heran jika gagal, orang Jepang lebih memilih bunuh diri.

Jepang pernah mengalami kondisi kritis. Tahun 1945 tentara sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Hal ini membuat masyarakat dan tanah jepang setengah mati. Bom yang dirakit dengan modal rumus E = M.c2 ini berhasil melumpuhkan Negara itu. Pasukannya di luar dipaksa untuk menyerah kepada tentara sekutu.

Pertanyaan menariknya bagaimana jepang dalam kurun waktu yang begitu singkat dapat menjadi negara yang begitu maju di Asia bahkan dunia?

Rupanya Jepang pasca tragedy bom atom tersebut segera mengambil arah kebijakan pembangunan baru. Mereka menitikberatkan permasalahan pendidikan. Mungkin ini jawabannya. Jepang saat itu menggunakan sisa-sisa kekayaannya untuk membiayai anak-anaknya sekolah ke berbagai lembaga pendidikan di Eropa maupun Asia. Keputusan ini tidak meleset, terbukti dengan memperhatikan sisi pendidikan, lahirlah sumber-sember daya manusia yang mumpun di bidangnnya. Hal ini tentu saja membantu jepang untuk maju dan berkarya.

Ngomong-ngomong soal Jepang, PCINU Sudan pernah menerima kunjungan salah satu orang Jepang. Namanya Hiroko Kinoshita dari Kyoto. Dia adalah salah satu dari akademisi Jepang yang dating ke Sudan untuk meneliti Islam di Asia dan Afrika sebagai bahan tesis doktoralnya, umurnya yang baru 23 tahun masih tergolong muda untuk remaja sebayanya. Hiroko tertarik dengan Islam setelah tragedi bom WTC 11 september yang saat itu membuat pandangan dunia tertuju kepada Islam.

Semua sudah tahu, bahwa selain munculnya tuduhan Islamophobia, tragedy ini juga berdampak positif, sebab kejadian ini telah membuat banyak orang malah mempelajari dan mengenal Islam lebih jauh. Hal ini karena kebiasaan orang barat adalah mereka selalu ingin mencari tahu sendiri apabila ada sebuah kejadian. Setelah tahu Islam, kebanyakan merasa kagum dengan ajaran agama ini, akibatnya jelas, ratusan bahkan ribuan orang masuk Islam setiap harinya di negara-negara barat.

Kita kembali ke Hiroko. Mungkin hal-hal semacam inilah yang membuatnya tertarik untuk memilih Islam di Asia dan Afrika sebagai basis tesisnya. Ia mencoba menggali ulang apa yang terkubur dari dinamika keislaman di Asia dan Afrika, lalu setelah menemukan apa dan mengapanya, ia mencoba menemukan bagaimananya, sebab Asia merupakan belahan bumi yang jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia, sedangakan Afrika merupakan tempat awal perkembangan Islam, ia seolah-olah ingin melihat Islam langsung dari kantor pusatnya, sehingga pemahaman yang diharapkannya kalaupun tidak meleset, minimal nyerempet.

Dalam kerangka konsep semacam inilah Hiroko –meskipun belum menjadi Muslimah- mencoba kenal, dan mungkin akan mengenalkan Islam dengan tesisnya kepada masyarakat di kampungnya, Kyoto, secara khusus dan kepada dunia pada umumnya.

PCI NU Sudan tidak ingin membuang kesempatan emas ini. Oleh sebab itu, diadakanlah dialog santai untuk menggali pemikiran sang putri ini.

Perkiraan tidak meleset. Dialog berjalan seru. Bahkan sempat dipertanyakan mengapa dalam tesisnya dia terlalu memusatkan pembahasan pada terminologi “jihad” dengan sudut pandang yang agak sempit?

Keseruan ini bertambah ketika salah seorang peserta diskusi mengangkat tangan dan menyatakan bahwa jihad tidak selalu identik dengan bom dan perang. Menurutnya jihad di zaman modern ini lebih dekat kepada pembelaan Islam dengan soft power, adapun sebagian kelompok muslim yang melakukan kekerasan dengan pemboman disana-sini, itu bukanlah merupakan jihad. Masih menurutnya, mungkin mereka belum sampai pada pemahaman jihad yang sebenarnya, tapi baru membaca satu atau dua halaman dari bab jihad saja.

Untuk mengetahui makna jihad, mungkin hanya dibutuhkan waktu yang singkat saja, namun untuk memahami dan menghayati esensinya, dibutuhkan perenungan dan analisa yang mendalam. Sebab jihad yang pada dasarnya disyariatkan untuk kepentingan dan kemenangan Islam, tentu memiliki bermacam cara untuk sampai pada tujuannya itu, bukan hanya dengan cara perang dengan mengangkat senjata. Kegiatan-kegiatan seperti belajar agama, membantu orang yang lemah, jujur dalam bekerja, bahkan mencari nafkah merupakan bagian dari jihad juga secara luas. Dialog dengan Hiroko ini juga mungkin termasuk jihad.

Maka jika kita dapat mengkontektualisasikan etimologi dan epistimologi dari terminologi “jihad” (maaf kalau bahasanya mbulet dan ribet) dengan sikon terkini, maka penulis haqqul yaqin kita akan memiliki kesempatan yang lebih untuk mengenalkan jihad modern yang sesuai dengan konsep rahmatan lil ‘alamin.

Masukan ini ditanggapi Putri Hiroko dengan suka cita. Mungkin dia berbaik sangka bahwa Warga NU Sudan orangnya selain baik-baik, juga tidak kalah pintarnya dengan mahasiswa lain di Negara barat yang infrastruktur pendidikannya lebih modern.

Selain kagum dengan Warga NU Sudan, Hiroko juga pasti kagum dengan H. Abdul Wahab Naf’an (AWN) orang Lamongan yang waktu itu menjadi Ketua Lakpesdam dan selalu mendampinginya dalam berbagai kegiatan penelitian secara professional.

Selepas acara, penulis dan AWN ditugaskan untuk menemani Hiroko. Kami naik mobil sedan bersama Bapak Pungki Hermawan salah seorang pekerja professional di Al-Korayef Oil untuk mengantarkan Hiroko kembali ke hotelnya. Selama perjalanan, penulis sempat berfikir, jika Hiroko tertarik dengan Islam kemudian menjadi seorang muslimah, apakah ia akan juga tertarik dengan AWN, Pak Pungki atau saya? Meskipun ada harapan, tetapi yang terakhir mungkin akan gagal.

Sebab sore harinya sewaktu penulis bertemu dengan Abdul Ghofur dari Bojonegoro yang kebetulan waktu itu tidak ikut acara, dia bertanya: “Cantik gak cewek Jepang yang tadi Kong? Jawabannya semua sudah tahu.